Senin, 11 April 2011

Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana.


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal, titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamarannya lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *




Kamis, 07 April 2011

Indonesiaku


Indonesiaku
yang demikian indah
demikian subur
tapi rakyatnya miskin semua

pejabatnya gemuk-gemuk
rakyatnya kurus-kurus

Indonesiaku
yang hijau royo-royo
gemah ripah lohjinawe
kekayaannya melimpah ruah di belantara hamparan sajadah
pulau-pulaunya bagai butiran-butiran tasbih khatulistiwa
tetapi hanya bisa dinikmati oleh para penguasa
para begundal-begundalnya
anak-anaknya
dan cucu-cucunya

wong cilik angkrik-angkrik
wong gede ongkang-ongkang

Indonesiaku
berjuta manusia menghuni rumahmu
dengan berbagai macam profesi yang ada
semua berjalan dengan apa adanya
semua dikerjakan dengan semaunya
wong gede pada tiduran saat sidang
pejabat pada sibuk membuat susah rakyat
pegawai negeri pada santai nonton televisi di kantor-kantor dinas
karyawan-karyawan perusahaan lagi asyik membuka vcd-vcd porno di laptopnya
para gelandangan mengais-ngais sampah mencari makanan yang tersisa

Indonesiaku
pandawa-pandawa yang memimpin
sudah mengembara, kini merantau tak jelas kabarnya
punggawa-punggawanya hanya bisa mengurut dada
karena kini bala kurawa yang datang memegang peranan
memegang kekuasaan
serakah
angkara murka
menindas rakyat jelata
menaikkan harga upeti

para kurawa yang memimpin negeri ini
tak tahu-menahu tentang manajemen mengurus rakyat
tak tahu fikihnya menyucikan bumi pertiwi
tak peduli dengan perut-perut pengemis yang berontak
tak perduli dengan dhuafa-dhuafa yang terlunta
tak perduli dengan janda-janda miskin
yang ada di isi kepalanya hanya isi perutnya
persis kaya togog
gog egak egog egak egog

Indonesiaku
yang kini sudah porak-poranda
bagai kapal-kapal
digoncang-goncang badai gelombang pantai selatan
tak jelas arahnya
tak tentu titik tujuannya

namun aku percaya
pada tutur kyai bodronoyo
yang dulu dawuh pada para pandawa
betapapun hancurnya negri ini
di lorong kegelapan sana
masih ada semburat sinar harapan
masih ada buruh tani yang ikhlas dalam bekerja
masih ada kyai kampung yang ikhlas dalam mengajar santri-santrinya
masih ada pendeta-pendeta katedral yang ikhlas dalam kebaktian-kebaktian
masih ada biara-biara yang ikhlas dalam membina umatnya
masih ada mutiara keikhlasan yang menerangi hamparan negeri
harapan itu masih ada
ibu pertiwi menanti.




Rabu, 06 April 2011

Sayup Sayup Kidung


                                            

            Ketika Kapal Ferry berlayar  mengarungi samudera, gagah dan congkak. Ombak mengayun-ayun mendorongnya ke arah pelabuhan. Semilir angin mendesir seakan-akan ikut mendorongnya. Geliat-geliut laut membuat kapal seolah-olah menari di tengah samudera. Kolaborasi burunya laut dan birunya langit di angkasa membuat pusing kepala.
            Saat itu, aku adalah salah satu penumpang kapal ferry yang menuju pulau Bali itu. Aku berada di antara puluhan penumpang itu. Aku berada di ruang lantai dua. Di area tempat yang terdapat tempat duduk. Karena kapal yang aku tumpangi mempunyai tiga lantai. Lantai paling bawah merupakan lantai bagasi, yaitu tempat bermacam-macam kendaraan singgah di sana. Mulai dari bus, truk, maupun sepeda motor bertempat di sana. Lantai tengah merupakan tempat duduk untuk para penumpang. Berbagai macam penumpang ada di sana dengan tujuan yang sama, menuju pulau Dewata.  Pulau yang mempunyai aneka ragam keindahan, aneka ragam wisata yang menakjubkan dunia. Mulai dari kelas menengah ke bawah tumplek blek di tempat ini. Ada asli orang Bali, yang baru berkunjung dari sanak family di Jawa, ada orang jawa yang mengunjungi sanak family di Bali atau sedang liburan ke Bali atau sedang merantau mengadu nasib.
            Suasana kapal menjadi gaduh. Bergemuruh. Karena banyaknya penumpang yang mengoceh ngalor ngidul tanpa ada jluntrungannya, suara tangisan bayi, suara music dangdut di televise, suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya dengan tidak mengenal kesopanan, suara mesin kapal yang mendesing-desing. Semua itu membuat kupingku gemberebeg.
            “Kalau bosan di sini, jalan-jalan aja ke atas.” Saran Dupo padaku.
            Jalan-jalan ke mana?” Kataku
            “Ya, terserah kamu, ke lantai atas sana lho.” Dupo membalas.
            “Ya udah, aku mau cari angin di atas.” Jawabku.
            “Ntar jangan lupa, kalau sudah ngampe pelabuhan, balik ke sini.” Timpalnya.
Perlu diketahui saudara-saudara. Saya datang ke Bali tidak sendiri. Aku diajak temanku, Dupo nama panggilannya. Ceritanya begini, setelah aku lulus kuliah dari universitas ternama di Surabaya, aku menganggur karena tidak dapat pekerjaan. Lalu temanku itu melihatku lontang-lantung, jadi dia mengajakku ke Bali cari pekerjaan. Dan akhirnya akupun ikut.
            Sepengetahuanku tentang Bali, di sana adalah tempat obyek wisata yang tersohor tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh penjuru Dunia. Banyak turis dari berbagai pelosok Negara ada di sana. Konon, Bali itu lebih terkenal dari Indonesia. Pernah seorang dosenku di FKH Universitas Airlangga, disela-sela mengajar dia berkata; ketika dia di Jerman, ada seorang yang bertanya, Indonesia itu apanya Bali? Ditanya begitu, beliau bengong. Dalam benaknya dia membatin; geografinya dapat berapa? Lalu dia menjelaskan dengan sedetail-detailnya tentang Indonesia kepada orang itu.
            Setelah mendapat ijin dari Dupo, temanku itu, aku langsung menuju lantai tiga. Aku berjalan sambil menggendong backpackerku yang lumayan berat melalui sela-sela kerumunan banyak orang. Lorong-lorong kursi-kursi kapal yang berjajar-jajar rapi membuatku kesulitan menggendong backpacker. Backpacker yang sebagian besar ku isi pakaian itu tersodok-sodok kursi dan orang-orang di sekitar. Lelah sekali aku membawanya. Belum lagi aku harus menaiki tangga kapal yang menanjak dan berbelok. Aku mendakinya dengan tenaga yang ada. Tidak begitu tinggi, tapi lumayan menyapekkan. Tangga demi tangga ku lalui satu persatu dengan langkah kaki yang sedikit kaku, karena duduk semalaman di dalam bus perjalanan Semarang-Denpasar. Setelah dua belas jam duduk, kakiku terasa kesemutan dan kram. Saat ini aku harus menaiku tangga yang menanjak menuju atap sebauah kapal raksasa. Pegel, linu, tagang, capek, tertimbun menjadi satu menggerogoti kakiku. Langkah demi langkah telah ku telusuri, tangga demi tangga semua telahku daki, sampailah aku di lantai tiga. Lantainya terbuka. Tidak ada penutupnya, tidak ada batas-batas dinding Kapal. Yang ada hanya batas pagar besi yang terpatri oleh baut-baut yang kuat di tepi kapal. Ada pula beberapa onggok kursi yang bertengger di sana.
            Aku duduk termangu di kursi sambil menatap laut yang luas sebatas mata memandang. Angin laut mengusap-usap mukaku hingga mataku merasa tak nyaman, terpicing-picing terkibas-kibas angin laut. Memorak-morandakan rambut kepalaku hingga acak-acakan. Seperti sangkar bujung jalak. Tak rapi dan kumal. Laut begitu luas, terhampar membiru dibatasi oleh kaki-kaki langit. Aku duduk termangu di antara beberapa orang. Memang hanya ada beberapa orang di sini. Tidak seperti di lantai tengah. Di sana orang berjubel-jubel memadati ruangan. Beda dengan di sini. Lantai tiga ini merupakan lantai sekaligus atas  dari kapal Ferry yang aku tumpangi ini.
            Lambat laun kapal semakin merapat ke pelabuhan. Pelabuhan Gilimanuk merupakan pintu gerbangnya pulau Dewata.  Pelabuhan tampak gebyar-gebyar dari kejauhan akibat terpantul sinar mantari. Sinar abrasi membuatnya seperti tergenang air. Indah berpijar-pijar. Aku tersenyum gembira, sebentar lagi aku sampai di Bali. Aku akan mengadu nasib di pulau ini. Seperti kebanyakan orang mengadu nasib di pulau ini. Mencari pekerjaan untuk bekal hidup. Jika tidak berhasil dan tak kuat dengan kejamnya pulau ini, maka mereka harus pulang. Kembali ke kampung halaman.
            Seiring dengan berayunnya kapal menuju pelabuhan, terdengar sayup-sayup kidung terdengar syahdu menerobos sudut-sudut lubang telingaku. semakin mendekat semakin mengalun indah, memukau, namum aku tak tahu artinya.  Aku paham betul, bahasa yang digunakan dalam kidung itu bukan bahasa Indonesia, bukan pula bahasa Jawa. Mungkin bahasa daerah setempat yang aku belum paham betul maksudnya. Sayup-sayup kidung itu semakin jelas. Aku terhanyut dalam keindahan suara kidung. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Dupo, temanku satu-satunya yang mengajakku ke Bali, memintaku untuk siap-siap turun.
            “Sudah mau sampai. Ayo siap-siap.” Pinta Dupo kepadaku.
Tanpa berucap, akupun mengikutinya. Aku dan dia menuju bus Karya Jaya yang aku tumpangi. Kapal Ferry hampir sampai ke bibir pelabuhan. Penjuru kapal mengingatkan penumpangnya untuk segera turun dan mengingatkan agar hati-hati dengan barang bawaannya Semua penumpang memasuki bus eksekutif itu, termasuk aku dan Dupo. Sejenak kemudian bus yang aku tumpangi melintasi jembatan penyebrangan kapal ferry. Bus yang aku tumbangu melaju pelan-pelan menunggu antrian di antara kendaraan-kendaraan lain. Diantara pejalan-pejalan kaki. Diantara pengendara sepeda motor yang menderu-deru. Bunyi suaran mesin yang berdentum-dentum memekakkan telinga. Membuat aku tak bias tenang dalam penantian sebuah antrian.
            Bus Karya Jaya menyebrangi jembatan kapal, geliat-geliut membuatku merinding. Kanan-kiri kulihat air laut. Perlahan-lahan kendaraan berjalan, beriring-igingah, berjejalan, dengan penuh hati-hati. Setelah sampai pelabuhan, para penumpan disuruh turun lagi untuk diperiksa KTPnya. Akupun turun dan berjalan diantara puluhan orang melewati lorong-lorong pejalan kaki di pelabuhan. Petugas memeriksa KTP satu persatu.Hingga akhirnya sampai pada giliranku. Aku mendekati petugas dan menujukkan KTPku.
            Om swastyastu.” Kata seorang petugas kepadaku.
Aku hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Lalu kusodorkan KTPku padanya layaknya orang lain menyodorkan KTPnya.. KTPku diperiksanya.  Tampaknya tidak terjadi apa-apa dengan KTPku itu. Petugas menyodorkan KTP kepadaku.
            Matur suksma.” Kata petugas itu kepadaku.
Lagi-lagi akupun tak menjawabnya. Aku hanya menganggukan kepada dan tersenyum. Setelah diperiksa, aku bergegas menuju bus yang aku tumpangi. Aku mencari tempat dudukku. Sambil menunggu penumpang yang lain, aku mendengar suara kidung. Tak tau dari mana suara kidung itu, tapi yang jelas bukan dari pelabuhan ini. Entah dari mana, aku tak berpikir, namun suaranya yang merdu itu bisa kunikmati. Tak terasa bus sudah penuh. Sopir melajukan busnya. Baru pertama kali aku menginjak pulau Dewata ini, aku diiringi sayup-sayup suara kidung yang asing bagiku. Kidung itu indah. Aku ingin melihatnya dari dekat.

##############

            Sampai sudah aku di Bali. Aku dan Dupo menunggu jemputan di terminal Ubung. Sejenak kemudian Dupo menyuruhku duduk di ruang tunggu di sebuah terminal itu. Lalu dia pergi ke wartel untuk menelephon temannya dari kampong yang telah lama kerja di Bali.
            “Nug, tunggu di sini dulu saya tak ngebel Giyanto.” Kata Dupo.
            “Iya.” Jawabku.
            “Hati-hati ya, jaga barang-barangnya.” Pinta Dupo.
            “Iya.” Jawabku lagi.
Setelah Dupo menelphon Gianto, jemputanpun datang. Aku menuju tempat parker. Dari kejauhan ada yang melambaikan tangan memanggil-manggil kami. Tampaknya Gianto tidak sendiri. Dia membawa tamannya, Wayan namanya. Dia asli orang Bali yang bekerja sebagai tukang. Kamu saling tegur sapa dan berjabat tangan.
            Kami menuju tempat tujuan dengan dibonceng sepeda motor. Wayan memboncengku, sedangkan Giyanto membonceng Dupo. Selama diperjalanan aku hanya diam. Aku hanya menukmati pemandangan kota. Pohon-pohon rindang di pinggir-pinggir jalan tertanam berderet-deret. Suasana jauh berbeda dengan di Jawa. Jarang di pulau jawa ditemukan pohon-pohon rindang di tengah kota. Yang ada hanya gedung-gedung pencakar langit. Tetapi disini lain, disamping banyak gedung tinggi menjulang, masih banyak orang yang peduli menanam pohon. Patung bertumpuk-tumpuk dari rumah ke rumah menambah keindahan. Aku tak tau untuk apa patung itu. Barangkali untuk dijual. Dan yang lebih aneh lagi, hampir setiap rumah ada Pura. Aku tau, Bali memang mayoritasnya penduduknya beragama Hindu. Tetapi apakah setiap rumah mempunyai Pura? Di Jawa mayoritas penduduknya moslem, tetapi tidak ssetiap rumah punya masjid atau mushala. Aku tidak tau bagaimana cara ibadah mereka. Hatiku bertanya-tanya dan belum menemukan jawaban. Dan aku tak memerlukan sebuah jawaban. Bukakah setiap pertanyaan tidak harus dijawab. Pikirku. Pulau Dewata yang indah dan menggiurkan dan membuat betah setiap mata memandang.
##############

            Tak terasa, sebulan sudah aku tinggal di pulau Bali, namun aku belum juga mendapat pekerjaan. Bertumpuk-tumpuk lamaran telah kukirimkan ke berbagai macam perusahaan atau instansi namun tak kunjung jua panggilan datang. Aku hampir putus asa. Teman-temanku menyarankan agar aku lebih baik pulang saja ke kampong. Namun aku harus bertahan di sini. Aku telah bertekad untuk bisa mengadu nasib di sini. Apapun yang terjadi aku harus bisa bertahan. Berhari-hari aku menganggur, namun aku harus makan. Aku di sini seperti hewan piaraan. Aku hanya mengandalkan makan dari temanku yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang di Mitra. Dan tiap malam aku harus memijitnya jika meraka capek. Itulah yang bisa kulakukan sebagai ganti untuk makan. Dusuruh masak jika mereka bekerja. Disuruh beli ini, beli itu dan lain-lain. Terkadang aku hanya makan mie, terkadang aku jarang makan nasi. Bahkan aku pernah seminggu hanya makan mie, karena uang lagi seret. Sampai-sampai aku mencret.
            Suatu hari, di hari Jum’at, aku mengadu pada yang kuasa untuk diberi pekerjaan. Aku menangis mengendap-endap seolah-olah memaksa Sang Penguasa Jagad untuk mengabulkan doaku. Aku tak mau hidup terlantar di bumi orang. Aku tak mau menjadi beban orang lain. Aku tak mau mengemis-ngemis pekerjaan pada orang lain. Karena selama ini aku juga mengemis-ngemis pekerjaan pada beberapa temanku yang sudah bekerja dengan menahan rasa malu tiada tara.  Begitulah jeritan hatiku yang ku adukan pada Tuhanku.
            Tak lama kemudian, di hari Jum’at sore, aku mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu temanku-Gede-sebagai tukang potong ayam. Dalam hati aku berbenak; aku, Nugroho, lulusan sarjana kedokteran hewan hanya bekerja sebagai seorang tukang potong ayam. Iihh memalukan. Pikirku. Tapi mau gimana lagi? Dari pada tidak punya pekerjaan, akhirnya aku terima tawaran Gede itu. Dalam urusan perut, tak ada istilah gengsi. Tak ada gunanya gengsi, kalau perut lagi lapar. Tak ada gunanya gengsi, kalau tak punya harga diri. Kerja apa saja tak masalah yang penting halal. Itung-itung mengulang praktikum binatang unggas, ketika di laboratorium kesehatan daging.
            Hari itu, aku pindah ke kandang ayam. Memang di pekerjaanku yang baru aku mendapat tempat tidur gratis tetapi di kandang ayam. Aku harus tidur bersama ayam-ayam yang mau dipotong. Bedanya, aku berada di tempat atas, sedangkan ayam-ayam itu berada di tempat bawah. Aku tidur di atas blandaran yang terbuat dari bambu anyaman yang diberi penyangga untuk menopang beban yang ada di blandaran tersebut.
            Setiap hari aku harus berjibagu dengan ayam-ayam potong itu. Setiap hari aku harus bangun jam dua dini hari untuk memotong ayam-ayam yang mau dijual di pasar. Aku bersama Gede harus memotong ayam satu persatu dalam jumlah yang cukup besar. Kurang lebih sekitar limapuluhan. Ayam yang sudah dipotong, direbus di air panas. Ayam yang sudah mati dikumpulkan di tempat yang terpisah dengan yang masih hidup.
            “Nug, tolong apinya dinyalakan ya!”Pinta Gede sambil menunjuk kompor besar di sebelah pojok.
Perlu diketahui, bahwa kompor yang ditunjuk Gede di pojok kandang itu bukan layaknya kompor pada umumnya. Kompor itu berupa kerangka besi yang terpasang empat kaki. Kaki-kaki itu saling melengkung dan bersinggungan dengan diperkuat oleh las-lasan. Diatasnya terbentuk besi yang melingkar yang fungsinya untuk menopang wajan perebus air. Dan dibawahnya terdapat empat sumbu yang terbuat dari kain yang menyumbul. Sumbu itu disalurkan dalam tabung yang berisi minyak. Dan terjadilah gaya kapiler.
“Aku gak ngerti cara menghidupkan. Ajari dulu!” Pitaku.
Tanpa banyak bicara, Gede langsung mengambil korek api yang sudah tersimpan di blandaran kayu atap. Gede lalu menyulutkan api pada sumbu-sumbu yang menyumbul di bawah wajan yang berisi air. Setelah api menyala, Gede langsung memompa minyak dalam tabung dengan pompa sepeda. Minyak merambat ke atas menuju api secara beruntai. Semakin kencang Gede memompa minyak itu, semakin besar api menyala. Setelah api dirasa cukup menyala, Gede menunggunya sampai air mendidih 100oC.
           

Setelah air mendidih ayam-ayam yang sudah mati dimasukkan ke dalam air itu secukupnya. Lalu diaduk beberapa menit sampai bulunya mudah untuk dicabut. Setelah benar-benar bulunya siap untuk dicabut, ayam itu dientaskan. Kemudian ayam itu ditunggu sampai hangat karena masih panas. Setelah hangat, ayam itu dicabut bulu-bulunya satu per-satu. Satu dua ayam aku masih bertahan, begitu menginjak dua puluh ayam, tanganku bernar-benar mendidih, persis kayak daging ayam yang baru dimasak. Melepuh. Hanya demi sesuap nasi aku harus berjuang seperti ini. Itupun kadang tidak cukup hidup selama satu bulan.
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah tiga bulan aku bekerja sebagai tukang potong ayam. Semakin lama kondisi tubuhku semakin memerihatinkan. Di sela-sela jemari tanganku terserang kutu air. Rasanya perih bila terkena air. Apalagi terkena kotoran ayam ketiaka membedah usus-ususnya dengan sembilu. Rasa sakit, gatal, panas, perih bercampur jadi satu.
            Pada suatu ketika, aku meminjam sepeda motor temanku untuk mencari pekerjaan. Aku mencoba mencari pekerjaan dari kantor ke kantor di seantero kota Denpasar. Dengan berbekal ijasah diploma aku berputar-putar mengelilingi kota. Melintasi gedung-gedung pencakar langit, menerobos gang-gang kumuh di perumahan, menapaki banjar-banjar, masuk pintu, keluar pintu, masuk kantor, keluar kantor, semua hasilnya nihil.  Sudah sebelas kantor kumasuki, namun jawabnya sama. Maaf, tak ada lowongan!
            Di tengah perjalanan, di bawah lampu merah, kutemui pengemis-pengemis cilik berkeliaran. Mereka menjual suaranya yang sumbang pada pengguna jalan. Ada sebagian yang berjualan Koran. Ada juga yang meminta-minta tanpa berbuat apa yang mereka perbuat. Aku tak menghuraukan karena memang tak ada yang bisa kuberi. Dalam hati aku membatin; konon, Bali merupakan daerah pariwisata. Omsetnya terbesar di Indonesia. Banyak dana yang masuk devisa. Dolar tercecer di mana-mana. Tapi mengapa masih banyak anak yang terlantar di perjalanan. Meraka tak sempat merasakan nikmatnya bersekolah. Banyak pemudanya yang menganggur, sehingga mereka hanya menjual koran di tepi-tepi jalan, menjadi guide-guide jalanan yang penampilannya niru-niru bule kaya orang edan. Kemana larinya dana melyaran rupiah itu? Masuk ke kantong siapa?
            Dan yang membuat aku tercengan, ketika aku membaca sepanduk yang berbunyi; hati-hati, pencurian kendaraan berkeliaran! Pualu Bali, yang katanya aman, tak ada pencurian, tak ada kekerasan, tak ada perampokan, bla, bla, bla. Kok masih seperti itu? Dimana rasa kepercayaan masyarakat kepada mereka? Trus bagaimana dengan para wisatawannya, terjamin apa tidak keselamatan mereka? Dan yang lebih tragis lagi, kemarin aku melihat di televise bahwa sorang anak diculik perampok. Diketahui si kurban adalah orang asing-orang India. Belum lagi, peledakan bom, semua menjadi tanggungjawab siapa? Satu hal yang patut kita renungkan.
            Waktu demi waktu terus berjalan. Sekali lagi aku belum punya pekerjaan tetap. Aku hanya bekerja sebagai seorang tukang pijat jika ada panggilan. Tak cukup buat makan. Semakin lama teman-temanku memperlakukanku tak lebih bagai anjing piaraan. Hidup di Bali tak semudah yang aku bayangkan. Semua serba silit jika tak ada uang. Apa-apa harus dibeli pakai uang. Aku putus asa. Ingin segera pulang. Ingin kuturuti kata-kata temanku itu. Aku sudah tak tahan lagi hidup seperti ini. Semua serba melarat. Namun, sayup-sayup kidung mengurungkan niatku. Mendengar suaranya yang syahdu, seolah-olah kakiku terpaku untuk melangkah. Membuat terasa berat meninggalkan pulau Dewata yang penuh daya pesona ini. Sayup-sayup kidung, menuntutku bertahan di kota ini. Menharuskan aku tegar dalam menghadapi hidup yang kejam. Sayup-sayup kidung, membuat aku enggan untuk pulang.