Rabu, 06 April 2011

Sayup Sayup Kidung


                                            

            Ketika Kapal Ferry berlayar  mengarungi samudera, gagah dan congkak. Ombak mengayun-ayun mendorongnya ke arah pelabuhan. Semilir angin mendesir seakan-akan ikut mendorongnya. Geliat-geliut laut membuat kapal seolah-olah menari di tengah samudera. Kolaborasi burunya laut dan birunya langit di angkasa membuat pusing kepala.
            Saat itu, aku adalah salah satu penumpang kapal ferry yang menuju pulau Bali itu. Aku berada di antara puluhan penumpang itu. Aku berada di ruang lantai dua. Di area tempat yang terdapat tempat duduk. Karena kapal yang aku tumpangi mempunyai tiga lantai. Lantai paling bawah merupakan lantai bagasi, yaitu tempat bermacam-macam kendaraan singgah di sana. Mulai dari bus, truk, maupun sepeda motor bertempat di sana. Lantai tengah merupakan tempat duduk untuk para penumpang. Berbagai macam penumpang ada di sana dengan tujuan yang sama, menuju pulau Dewata.  Pulau yang mempunyai aneka ragam keindahan, aneka ragam wisata yang menakjubkan dunia. Mulai dari kelas menengah ke bawah tumplek blek di tempat ini. Ada asli orang Bali, yang baru berkunjung dari sanak family di Jawa, ada orang jawa yang mengunjungi sanak family di Bali atau sedang liburan ke Bali atau sedang merantau mengadu nasib.
            Suasana kapal menjadi gaduh. Bergemuruh. Karena banyaknya penumpang yang mengoceh ngalor ngidul tanpa ada jluntrungannya, suara tangisan bayi, suara music dangdut di televise, suara pedagang asongan yang menawarkan dagangannya dengan tidak mengenal kesopanan, suara mesin kapal yang mendesing-desing. Semua itu membuat kupingku gemberebeg.
            “Kalau bosan di sini, jalan-jalan aja ke atas.” Saran Dupo padaku.
            Jalan-jalan ke mana?” Kataku
            “Ya, terserah kamu, ke lantai atas sana lho.” Dupo membalas.
            “Ya udah, aku mau cari angin di atas.” Jawabku.
            “Ntar jangan lupa, kalau sudah ngampe pelabuhan, balik ke sini.” Timpalnya.
Perlu diketahui saudara-saudara. Saya datang ke Bali tidak sendiri. Aku diajak temanku, Dupo nama panggilannya. Ceritanya begini, setelah aku lulus kuliah dari universitas ternama di Surabaya, aku menganggur karena tidak dapat pekerjaan. Lalu temanku itu melihatku lontang-lantung, jadi dia mengajakku ke Bali cari pekerjaan. Dan akhirnya akupun ikut.
            Sepengetahuanku tentang Bali, di sana adalah tempat obyek wisata yang tersohor tidak hanya di Indonesia, namun di seluruh penjuru Dunia. Banyak turis dari berbagai pelosok Negara ada di sana. Konon, Bali itu lebih terkenal dari Indonesia. Pernah seorang dosenku di FKH Universitas Airlangga, disela-sela mengajar dia berkata; ketika dia di Jerman, ada seorang yang bertanya, Indonesia itu apanya Bali? Ditanya begitu, beliau bengong. Dalam benaknya dia membatin; geografinya dapat berapa? Lalu dia menjelaskan dengan sedetail-detailnya tentang Indonesia kepada orang itu.
            Setelah mendapat ijin dari Dupo, temanku itu, aku langsung menuju lantai tiga. Aku berjalan sambil menggendong backpackerku yang lumayan berat melalui sela-sela kerumunan banyak orang. Lorong-lorong kursi-kursi kapal yang berjajar-jajar rapi membuatku kesulitan menggendong backpacker. Backpacker yang sebagian besar ku isi pakaian itu tersodok-sodok kursi dan orang-orang di sekitar. Lelah sekali aku membawanya. Belum lagi aku harus menaiki tangga kapal yang menanjak dan berbelok. Aku mendakinya dengan tenaga yang ada. Tidak begitu tinggi, tapi lumayan menyapekkan. Tangga demi tangga ku lalui satu persatu dengan langkah kaki yang sedikit kaku, karena duduk semalaman di dalam bus perjalanan Semarang-Denpasar. Setelah dua belas jam duduk, kakiku terasa kesemutan dan kram. Saat ini aku harus menaiku tangga yang menanjak menuju atap sebauah kapal raksasa. Pegel, linu, tagang, capek, tertimbun menjadi satu menggerogoti kakiku. Langkah demi langkah telah ku telusuri, tangga demi tangga semua telahku daki, sampailah aku di lantai tiga. Lantainya terbuka. Tidak ada penutupnya, tidak ada batas-batas dinding Kapal. Yang ada hanya batas pagar besi yang terpatri oleh baut-baut yang kuat di tepi kapal. Ada pula beberapa onggok kursi yang bertengger di sana.
            Aku duduk termangu di kursi sambil menatap laut yang luas sebatas mata memandang. Angin laut mengusap-usap mukaku hingga mataku merasa tak nyaman, terpicing-picing terkibas-kibas angin laut. Memorak-morandakan rambut kepalaku hingga acak-acakan. Seperti sangkar bujung jalak. Tak rapi dan kumal. Laut begitu luas, terhampar membiru dibatasi oleh kaki-kaki langit. Aku duduk termangu di antara beberapa orang. Memang hanya ada beberapa orang di sini. Tidak seperti di lantai tengah. Di sana orang berjubel-jubel memadati ruangan. Beda dengan di sini. Lantai tiga ini merupakan lantai sekaligus atas  dari kapal Ferry yang aku tumpangi ini.
            Lambat laun kapal semakin merapat ke pelabuhan. Pelabuhan Gilimanuk merupakan pintu gerbangnya pulau Dewata.  Pelabuhan tampak gebyar-gebyar dari kejauhan akibat terpantul sinar mantari. Sinar abrasi membuatnya seperti tergenang air. Indah berpijar-pijar. Aku tersenyum gembira, sebentar lagi aku sampai di Bali. Aku akan mengadu nasib di pulau ini. Seperti kebanyakan orang mengadu nasib di pulau ini. Mencari pekerjaan untuk bekal hidup. Jika tidak berhasil dan tak kuat dengan kejamnya pulau ini, maka mereka harus pulang. Kembali ke kampung halaman.
            Seiring dengan berayunnya kapal menuju pelabuhan, terdengar sayup-sayup kidung terdengar syahdu menerobos sudut-sudut lubang telingaku. semakin mendekat semakin mengalun indah, memukau, namum aku tak tahu artinya.  Aku paham betul, bahasa yang digunakan dalam kidung itu bukan bahasa Indonesia, bukan pula bahasa Jawa. Mungkin bahasa daerah setempat yang aku belum paham betul maksudnya. Sayup-sayup kidung itu semakin jelas. Aku terhanyut dalam keindahan suara kidung. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahuku. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Dupo, temanku satu-satunya yang mengajakku ke Bali, memintaku untuk siap-siap turun.
            “Sudah mau sampai. Ayo siap-siap.” Pinta Dupo kepadaku.
Tanpa berucap, akupun mengikutinya. Aku dan dia menuju bus Karya Jaya yang aku tumpangi. Kapal Ferry hampir sampai ke bibir pelabuhan. Penjuru kapal mengingatkan penumpangnya untuk segera turun dan mengingatkan agar hati-hati dengan barang bawaannya Semua penumpang memasuki bus eksekutif itu, termasuk aku dan Dupo. Sejenak kemudian bus yang aku tumpangi melintasi jembatan penyebrangan kapal ferry. Bus yang aku tumbangu melaju pelan-pelan menunggu antrian di antara kendaraan-kendaraan lain. Diantara pejalan-pejalan kaki. Diantara pengendara sepeda motor yang menderu-deru. Bunyi suaran mesin yang berdentum-dentum memekakkan telinga. Membuat aku tak bias tenang dalam penantian sebuah antrian.
            Bus Karya Jaya menyebrangi jembatan kapal, geliat-geliut membuatku merinding. Kanan-kiri kulihat air laut. Perlahan-lahan kendaraan berjalan, beriring-igingah, berjejalan, dengan penuh hati-hati. Setelah sampai pelabuhan, para penumpan disuruh turun lagi untuk diperiksa KTPnya. Akupun turun dan berjalan diantara puluhan orang melewati lorong-lorong pejalan kaki di pelabuhan. Petugas memeriksa KTP satu persatu.Hingga akhirnya sampai pada giliranku. Aku mendekati petugas dan menujukkan KTPku.
            Om swastyastu.” Kata seorang petugas kepadaku.
Aku hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa. Lalu kusodorkan KTPku padanya layaknya orang lain menyodorkan KTPnya.. KTPku diperiksanya.  Tampaknya tidak terjadi apa-apa dengan KTPku itu. Petugas menyodorkan KTP kepadaku.
            Matur suksma.” Kata petugas itu kepadaku.
Lagi-lagi akupun tak menjawabnya. Aku hanya menganggukan kepada dan tersenyum. Setelah diperiksa, aku bergegas menuju bus yang aku tumpangi. Aku mencari tempat dudukku. Sambil menunggu penumpang yang lain, aku mendengar suara kidung. Tak tau dari mana suara kidung itu, tapi yang jelas bukan dari pelabuhan ini. Entah dari mana, aku tak berpikir, namun suaranya yang merdu itu bisa kunikmati. Tak terasa bus sudah penuh. Sopir melajukan busnya. Baru pertama kali aku menginjak pulau Dewata ini, aku diiringi sayup-sayup suara kidung yang asing bagiku. Kidung itu indah. Aku ingin melihatnya dari dekat.

##############

            Sampai sudah aku di Bali. Aku dan Dupo menunggu jemputan di terminal Ubung. Sejenak kemudian Dupo menyuruhku duduk di ruang tunggu di sebuah terminal itu. Lalu dia pergi ke wartel untuk menelephon temannya dari kampong yang telah lama kerja di Bali.
            “Nug, tunggu di sini dulu saya tak ngebel Giyanto.” Kata Dupo.
            “Iya.” Jawabku.
            “Hati-hati ya, jaga barang-barangnya.” Pinta Dupo.
            “Iya.” Jawabku lagi.
Setelah Dupo menelphon Gianto, jemputanpun datang. Aku menuju tempat parker. Dari kejauhan ada yang melambaikan tangan memanggil-manggil kami. Tampaknya Gianto tidak sendiri. Dia membawa tamannya, Wayan namanya. Dia asli orang Bali yang bekerja sebagai tukang. Kamu saling tegur sapa dan berjabat tangan.
            Kami menuju tempat tujuan dengan dibonceng sepeda motor. Wayan memboncengku, sedangkan Giyanto membonceng Dupo. Selama diperjalanan aku hanya diam. Aku hanya menukmati pemandangan kota. Pohon-pohon rindang di pinggir-pinggir jalan tertanam berderet-deret. Suasana jauh berbeda dengan di Jawa. Jarang di pulau jawa ditemukan pohon-pohon rindang di tengah kota. Yang ada hanya gedung-gedung pencakar langit. Tetapi disini lain, disamping banyak gedung tinggi menjulang, masih banyak orang yang peduli menanam pohon. Patung bertumpuk-tumpuk dari rumah ke rumah menambah keindahan. Aku tak tau untuk apa patung itu. Barangkali untuk dijual. Dan yang lebih aneh lagi, hampir setiap rumah ada Pura. Aku tau, Bali memang mayoritasnya penduduknya beragama Hindu. Tetapi apakah setiap rumah mempunyai Pura? Di Jawa mayoritas penduduknya moslem, tetapi tidak ssetiap rumah punya masjid atau mushala. Aku tidak tau bagaimana cara ibadah mereka. Hatiku bertanya-tanya dan belum menemukan jawaban. Dan aku tak memerlukan sebuah jawaban. Bukakah setiap pertanyaan tidak harus dijawab. Pikirku. Pulau Dewata yang indah dan menggiurkan dan membuat betah setiap mata memandang.
##############

            Tak terasa, sebulan sudah aku tinggal di pulau Bali, namun aku belum juga mendapat pekerjaan. Bertumpuk-tumpuk lamaran telah kukirimkan ke berbagai macam perusahaan atau instansi namun tak kunjung jua panggilan datang. Aku hampir putus asa. Teman-temanku menyarankan agar aku lebih baik pulang saja ke kampong. Namun aku harus bertahan di sini. Aku telah bertekad untuk bisa mengadu nasib di sini. Apapun yang terjadi aku harus bisa bertahan. Berhari-hari aku menganggur, namun aku harus makan. Aku di sini seperti hewan piaraan. Aku hanya mengandalkan makan dari temanku yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang di Mitra. Dan tiap malam aku harus memijitnya jika meraka capek. Itulah yang bisa kulakukan sebagai ganti untuk makan. Dusuruh masak jika mereka bekerja. Disuruh beli ini, beli itu dan lain-lain. Terkadang aku hanya makan mie, terkadang aku jarang makan nasi. Bahkan aku pernah seminggu hanya makan mie, karena uang lagi seret. Sampai-sampai aku mencret.
            Suatu hari, di hari Jum’at, aku mengadu pada yang kuasa untuk diberi pekerjaan. Aku menangis mengendap-endap seolah-olah memaksa Sang Penguasa Jagad untuk mengabulkan doaku. Aku tak mau hidup terlantar di bumi orang. Aku tak mau menjadi beban orang lain. Aku tak mau mengemis-ngemis pekerjaan pada orang lain. Karena selama ini aku juga mengemis-ngemis pekerjaan pada beberapa temanku yang sudah bekerja dengan menahan rasa malu tiada tara.  Begitulah jeritan hatiku yang ku adukan pada Tuhanku.
            Tak lama kemudian, di hari Jum’at sore, aku mendapat tawaran pekerjaan dari salah satu temanku-Gede-sebagai tukang potong ayam. Dalam hati aku berbenak; aku, Nugroho, lulusan sarjana kedokteran hewan hanya bekerja sebagai seorang tukang potong ayam. Iihh memalukan. Pikirku. Tapi mau gimana lagi? Dari pada tidak punya pekerjaan, akhirnya aku terima tawaran Gede itu. Dalam urusan perut, tak ada istilah gengsi. Tak ada gunanya gengsi, kalau perut lagi lapar. Tak ada gunanya gengsi, kalau tak punya harga diri. Kerja apa saja tak masalah yang penting halal. Itung-itung mengulang praktikum binatang unggas, ketika di laboratorium kesehatan daging.
            Hari itu, aku pindah ke kandang ayam. Memang di pekerjaanku yang baru aku mendapat tempat tidur gratis tetapi di kandang ayam. Aku harus tidur bersama ayam-ayam yang mau dipotong. Bedanya, aku berada di tempat atas, sedangkan ayam-ayam itu berada di tempat bawah. Aku tidur di atas blandaran yang terbuat dari bambu anyaman yang diberi penyangga untuk menopang beban yang ada di blandaran tersebut.
            Setiap hari aku harus berjibagu dengan ayam-ayam potong itu. Setiap hari aku harus bangun jam dua dini hari untuk memotong ayam-ayam yang mau dijual di pasar. Aku bersama Gede harus memotong ayam satu persatu dalam jumlah yang cukup besar. Kurang lebih sekitar limapuluhan. Ayam yang sudah dipotong, direbus di air panas. Ayam yang sudah mati dikumpulkan di tempat yang terpisah dengan yang masih hidup.
            “Nug, tolong apinya dinyalakan ya!”Pinta Gede sambil menunjuk kompor besar di sebelah pojok.
Perlu diketahui, bahwa kompor yang ditunjuk Gede di pojok kandang itu bukan layaknya kompor pada umumnya. Kompor itu berupa kerangka besi yang terpasang empat kaki. Kaki-kaki itu saling melengkung dan bersinggungan dengan diperkuat oleh las-lasan. Diatasnya terbentuk besi yang melingkar yang fungsinya untuk menopang wajan perebus air. Dan dibawahnya terdapat empat sumbu yang terbuat dari kain yang menyumbul. Sumbu itu disalurkan dalam tabung yang berisi minyak. Dan terjadilah gaya kapiler.
“Aku gak ngerti cara menghidupkan. Ajari dulu!” Pitaku.
Tanpa banyak bicara, Gede langsung mengambil korek api yang sudah tersimpan di blandaran kayu atap. Gede lalu menyulutkan api pada sumbu-sumbu yang menyumbul di bawah wajan yang berisi air. Setelah api menyala, Gede langsung memompa minyak dalam tabung dengan pompa sepeda. Minyak merambat ke atas menuju api secara beruntai. Semakin kencang Gede memompa minyak itu, semakin besar api menyala. Setelah api dirasa cukup menyala, Gede menunggunya sampai air mendidih 100oC.
           

Setelah air mendidih ayam-ayam yang sudah mati dimasukkan ke dalam air itu secukupnya. Lalu diaduk beberapa menit sampai bulunya mudah untuk dicabut. Setelah benar-benar bulunya siap untuk dicabut, ayam itu dientaskan. Kemudian ayam itu ditunggu sampai hangat karena masih panas. Setelah hangat, ayam itu dicabut bulu-bulunya satu per-satu. Satu dua ayam aku masih bertahan, begitu menginjak dua puluh ayam, tanganku bernar-benar mendidih, persis kayak daging ayam yang baru dimasak. Melepuh. Hanya demi sesuap nasi aku harus berjuang seperti ini. Itupun kadang tidak cukup hidup selama satu bulan.
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah tiga bulan aku bekerja sebagai tukang potong ayam. Semakin lama kondisi tubuhku semakin memerihatinkan. Di sela-sela jemari tanganku terserang kutu air. Rasanya perih bila terkena air. Apalagi terkena kotoran ayam ketiaka membedah usus-ususnya dengan sembilu. Rasa sakit, gatal, panas, perih bercampur jadi satu.
            Pada suatu ketika, aku meminjam sepeda motor temanku untuk mencari pekerjaan. Aku mencoba mencari pekerjaan dari kantor ke kantor di seantero kota Denpasar. Dengan berbekal ijasah diploma aku berputar-putar mengelilingi kota. Melintasi gedung-gedung pencakar langit, menerobos gang-gang kumuh di perumahan, menapaki banjar-banjar, masuk pintu, keluar pintu, masuk kantor, keluar kantor, semua hasilnya nihil.  Sudah sebelas kantor kumasuki, namun jawabnya sama. Maaf, tak ada lowongan!
            Di tengah perjalanan, di bawah lampu merah, kutemui pengemis-pengemis cilik berkeliaran. Mereka menjual suaranya yang sumbang pada pengguna jalan. Ada sebagian yang berjualan Koran. Ada juga yang meminta-minta tanpa berbuat apa yang mereka perbuat. Aku tak menghuraukan karena memang tak ada yang bisa kuberi. Dalam hati aku membatin; konon, Bali merupakan daerah pariwisata. Omsetnya terbesar di Indonesia. Banyak dana yang masuk devisa. Dolar tercecer di mana-mana. Tapi mengapa masih banyak anak yang terlantar di perjalanan. Meraka tak sempat merasakan nikmatnya bersekolah. Banyak pemudanya yang menganggur, sehingga mereka hanya menjual koran di tepi-tepi jalan, menjadi guide-guide jalanan yang penampilannya niru-niru bule kaya orang edan. Kemana larinya dana melyaran rupiah itu? Masuk ke kantong siapa?
            Dan yang membuat aku tercengan, ketika aku membaca sepanduk yang berbunyi; hati-hati, pencurian kendaraan berkeliaran! Pualu Bali, yang katanya aman, tak ada pencurian, tak ada kekerasan, tak ada perampokan, bla, bla, bla. Kok masih seperti itu? Dimana rasa kepercayaan masyarakat kepada mereka? Trus bagaimana dengan para wisatawannya, terjamin apa tidak keselamatan mereka? Dan yang lebih tragis lagi, kemarin aku melihat di televise bahwa sorang anak diculik perampok. Diketahui si kurban adalah orang asing-orang India. Belum lagi, peledakan bom, semua menjadi tanggungjawab siapa? Satu hal yang patut kita renungkan.
            Waktu demi waktu terus berjalan. Sekali lagi aku belum punya pekerjaan tetap. Aku hanya bekerja sebagai seorang tukang pijat jika ada panggilan. Tak cukup buat makan. Semakin lama teman-temanku memperlakukanku tak lebih bagai anjing piaraan. Hidup di Bali tak semudah yang aku bayangkan. Semua serba silit jika tak ada uang. Apa-apa harus dibeli pakai uang. Aku putus asa. Ingin segera pulang. Ingin kuturuti kata-kata temanku itu. Aku sudah tak tahan lagi hidup seperti ini. Semua serba melarat. Namun, sayup-sayup kidung mengurungkan niatku. Mendengar suaranya yang syahdu, seolah-olah kakiku terpaku untuk melangkah. Membuat terasa berat meninggalkan pulau Dewata yang penuh daya pesona ini. Sayup-sayup kidung, menuntutku bertahan di kota ini. Menharuskan aku tegar dalam menghadapi hidup yang kejam. Sayup-sayup kidung, membuat aku enggan untuk pulang.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar