Indonesiaku
yang demikian indah
demikian subur
tapi rakyatnya miskin semua
pejabatnya gemuk-gemuk
rakyatnya kurus-kurus
Indonesiaku
yang hijau royo-royo
gemah ripah lohjinawe
kekayaannya melimpah ruah di belantara hamparan sajadah
pulau-pulaunya bagai butiran-butiran tasbih khatulistiwa
tetapi hanya bisa dinikmati oleh para penguasa
para begundal-begundalnya
anak-anaknya
dan cucu-cucunya
wong cilik angkrik-angkrik
wong gede ongkang-ongkang
Indonesiaku
berjuta manusia menghuni rumahmu
dengan berbagai macam profesi yang ada
semua berjalan dengan apa adanya
semua dikerjakan dengan semaunya
wong gede pada tiduran saat sidang
pejabat pada sibuk membuat susah rakyat
pegawai negeri pada santai nonton televisi di kantor-kantor dinas
karyawan-karyawan perusahaan lagi asyik membuka vcd-vcd porno di laptopnya
para gelandangan mengais-ngais sampah mencari makanan yang tersisa
Indonesiaku
pandawa-pandawa yang memimpin
sudah mengembara, kini merantau tak jelas kabarnya
punggawa-punggawanya hanya bisa mengurut dada
karena kini bala kurawa yang datang memegang peranan
memegang kekuasaan
serakah
angkara murka
menindas rakyat jelata
menaikkan harga upeti
para kurawa yang memimpin negeri ini
tak tahu-menahu tentang manajemen mengurus rakyat
tak tahu fikihnya menyucikan bumi pertiwi
tak peduli dengan perut-perut pengemis yang berontak
tak perduli dengan dhuafa-dhuafa yang terlunta
tak perduli dengan janda-janda miskin
yang ada di isi kepalanya hanya isi perutnya
persis kaya togog
gog egak egog egak egog
Indonesiaku
yang kini sudah porak-poranda
bagai kapal-kapal
digoncang-goncang badai gelombang pantai selatan
tak jelas arahnya
tak tentu titik tujuannya
namun aku percaya
pada tutur kyai bodronoyo
yang dulu dawuh pada para pandawa
betapapun hancurnya negri ini
di lorong kegelapan sana
masih ada semburat sinar harapan
masih ada buruh tani yang ikhlas dalam bekerja
masih ada kyai kampung yang ikhlas dalam mengajar santri-santrinya
masih ada pendeta-pendeta katedral yang ikhlas dalam kebaktian-kebaktian
masih ada biara-biara yang ikhlas dalam membina umatnya
masih ada mutiara keikhlasan yang menerangi hamparan negeri
harapan itu masih ada
ibu pertiwi menanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar